Maudu Lompoa adalah salah satu tradisi budaya dan keagamaan terbesar di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Upacara ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, serta pelestarian warisan budaya Bugis-Makassar yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Pusat perayaan Maudu Lompoa berada di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Tradisi ini dipimpin oleh para Anrong Guru (pemuka adat dan agama) dari komunitas Sayyid atau keturunan Arab–Makassar yang disebut “Atturang Cikoang”. Perayaan Maudu Lompoa dikenal dengan kemegahannya karena melibatkan ribuan warga, wisatawan lokal, hingga mancanegara yang datang untuk menyaksikan ritual unik ini.
Salah satu daya tarik utama Maudu Lompoa adalah prosesi pengantaran "Lappa-lappa", yaitu perahu besar yang diisi dengan berbagai macam hasil bumi, makanan tradisional, serta telur hias berwarna-warni yang disusun membentuk gunungan. Perahu ini diarak menuju sungai atau laut sebagai simbol penghormatan dan syukur atas berkah kehidupan. Selain ritual keagamaan, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan budaya seperti pementasan musik tradisional, tari-tarian daerah, dan bazar rakyat.
Sebagai wisata budaya religi, Maudu Lompoa tidak hanya menjadi sarana memperkuat nilai spiritual masyarakat, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan kekayaan adat dan kearifan lokal Takalar kepada dunia. Melalui pelestarian Maudu Lompoa, masyarakat setempat berupaya menjaga harmoni antara budaya, agama, dan kehidupan sosial dalam satu perayaan yang penuh makna.