Tari Pakkuru Sumangak merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Tarian ini memiliki makna yang mendalam sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur kepada para leluhur serta para raja yang pernah memimpin Kerajaan Sanrobone. Dalam bahasa Makassar, kata “pakkuru” berarti menundukkan kepala atau memberi hormat, sedangkan “sumangak” berarti kebesaran atau kehormatan. Dengan demikian, Tari Pakkuru Sumangak menggambarkan sikap hormat dan pengagungan terhadap pemimpin yang arif dan bijaksana.
Gerakan dalam tarian ini ditampilkan dengan lembut, anggun, dan penuh makna. Setiap penari menundukkan kepala dengan gerakan tangan yang halus sebagai bentuk penghormatan. Busana yang digunakan biasanya berupa pakaian adat Makassar yang berwarna cerah, dilengkapi dengan hiasan kepala dan kain sarung sutra yang melambangkan keanggunan dan kehormatan perempuan Makassar. Iringan musik tradisional seperti gandrang (gendang) dan puik-puik (seruling khas Bugis-Makassar) menambah suasana khidmat dan sakral selama pertunjukan berlangsung.
Tari Pakkuru Sumangak umumnya ditampilkan pada acara-acara adat, penyambutan tamu kehormatan, upacara kebudayaan, dan peringatan sejarah Kerajaan Sanrobone. Melalui tarian ini, masyarakat Takalar berusaha melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya sikap hormat, rendah hati, dan menjaga keharmonisan sosial.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Tari Pakkuru Sumangak merupakan warisan budaya yang merefleksikan identitas dan kebanggaan masyarakat Takalar. Tarian ini menjadi simbol hubungan antara masa lalu dan masa kini, mengingatkan generasi muda untuk terus menghargai dan menjaga tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka.