Pulau Tanakeke merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di wilayah pesisir barat Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau ini berada di antara Selat Makassar dan Laut Flores, dengan luas wilayah sekitar 4.000 hektar yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dan kawasan pesisir yang dikelilingi oleh hutan mangrove, terumbu karang, serta padang lamun yang masih cukup terjaga.
Secara administratif, Pulau Tanakeke termasuk dalam wilayah Kecamatan Mappakasunggu, dan dihuni oleh beberapa desa, antara lain Desa Rewataya, Desa Tompotana, Desa Maccini Baji, Desa Balang Datu, dan Desa Lantang Peo. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, petani rumput laut, serta pengrajin hasil laut.
Pulau ini dikenal memiliki kearifan lokal yang kuat, terutama dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan mangrove. Warga Tanakeke secara turun-temurun menerapkan sistem pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, seperti larangan mengambil hasil laut secara berlebihan dan tradisi menanam kembali mangrove sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
Keindahan Pulau Tanakeke juga menjadi daya tarik tersendiri. Hamparan pasir putih, laut biru jernih, serta hutan mangrove yang rimbun menjadikannya potensi besar untuk pengembangan ekowisata bahari berbasis masyarakat (community-based tourism). Selain itu, Tanakeke juga menyimpan nilai budaya dan sejarah masyarakat pesisir Bugis-Makassar yang masih terpelihara dalam bahasa, adat istiadat, serta kehidupan sosial mereka.
Meski memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah, Pulau Tanakeke menghadapi berbagai tantangan seperti abrasi pantai, keterbatasan infrastruktur, dan akses transportasi. Namun, dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan berbagai pihak, Tanakeke berpotensi menjadi model pengelolaan pulau kecil yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan.